Petani-Pangalengan-Tersingkir-Instruksi-Pemprov-Dinilai-Abaikan-Nasib-Warga-Lokal



πŸ…‚πŸ†„πŸ…°πŸ†πŸ…°-πŸ…±πŸ…°πŸ…½πŸ…³πŸ†„πŸ…½πŸ…Ά1.πŸ…²πŸ…ΎπŸ…Ό — Pangalengan, Suasana haru dan amarah menyelimuti warga Pangalengan setelah lahan garapan mereka tiba-tiba diambil alih untuk program penanaman kembali atas instruksi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Warga menilai kebijakan tersebut tidak berpihak kepada masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari tanah yang kini mereka sebut “dirampas atas nama reboisasi”.

“Langsung atas instruksi Pemprov, Pak. Kami disuruh berhenti, lahan ditanami tanpa penjelasan. Sekarang kami menganggur,” ujar seorang warga yang sebelumnya mengelola lahan pertanian di kawasan tersebut.


Warga mengaku kecewa karena kebijakan itu datang tanpa sosialisasi, tanpa dialog, dan tanpa solusi pengganti. Padahal, sekitar 80 persen penduduk Pangalengan hidup dari sektor pertanian dan peternakan. “Tidak ada pabrik, tidak ada lapangan kerja lain. Kalau lahan diambil, kami mau makan apa?” keluh seorang ibu sambil menahan tangis.

Lebih jauh, warga mempertanyakan dasar hukum dan teknis pelaksanaan program tersebut. Mereka menilai Pemprov tidak memperhatikan kondisi lapangan dan aspek sosial masyarakat. “Penanaman dilakukan tanpa melihat kemiringan tanah, tanpa SOP yang jelas. Harusnya yang direboisasi itu lahan curam, bukan lahan produktif yang masih digarap petani,” tegas salah satu tokoh masyarakat.

Warga juga menyoroti status lahan yang selama ini mereka kelola. Menurut mereka, tanah tersebut tidak tercatat di BPN sejak 1972, namun telah digarap turun-temurun oleh masyarakat sekitar. “Kami bukan perambah. Kami penggarap sah yang menjaga tanah ini agar tetap hidup. Tapi sekarang kami justru dianggap pengganggu,” ujar seorang petani senior.

Kebijakan yang disebut-sebut sebagai bagian dari program penghijauan itu kini justru menimbulkan keresahan sosial. Ratusan warga kehilangan pekerjaan, sementara janji pendampingan dan kompensasi belum juga terdengar. “Kami hanya ingin keadilan. Jangan jadikan rakyat kecil korban kebijakan yang tidak berpihak,” tutup seorang warga dengan nada getir. 

Redaksi: Kiki Amalluki

Editor: Rahmien Liomintono

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SPP-Bentuk-Pansus-dan-Gelar-Aksi-di-Depan-Gedung-Sate-Petani-Bergerak-Lawan-Stagnasi-dan-Korupsi-Desa

Tragedi-Ngada-Jadi-Cermin-Nurani-Bangsa:-RPABI-Serukan-Gerakan-Nasional-Peduli-Anak-Sekolah-Miskin

Kasatpol-PP-Kota-Bandung-Angkat-Bicara-Soal-Dugaan+Penyalahgunaan-Wewenang-oleh-Oknum-Anggota