Perempuan Bangkit dari Kampus Perjuangan: Dr. RA Ikke Dewi Sartika Pimpin Kongres Pejuang Wanita Indonesia di UPI


SUARA-BANDUNG1.COM BANDUNG, - Wawancara Eksklusif Media Suara-Bandung.com dengan Ketua Kongres Pejuang Wanita Indonesia Pertama di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Bandung — Kongres Pejuang Wanita Indonesia pertama yang digelar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berlangsung meriah dan penuh semangat. Acara bersejarah ini dipimpin oleh Ketua Kongres Dr. RA Ikke Dewi Sartika, M.Pd. dengan Wakil Ketua Dr. Hj. Euis Ratnaningsih, M.M. Turut hadir pula Atalia Praratya, anggota DPR-RI, serta perwakilan dari tujuh wilayah di Indonesia.

Dalam wawancara bersama Media Suara-Bandung.com, Dr. RA Ikke Dewi Sartika mengungkapkan makna dan tujuan besar di balik penyelenggaraan kongres ini.

Menurut Dr. Ikke Dewi Sartika, kongres ini lahir dari semangat untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan bangsa. “Kami ingin menghidupkan kembali semangat perjuangan perempuan Indonesia agar lebih berdaya, berpendidikan, dan berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi,” ujarnya.


Persiapan kongres melibatkan banyak tokoh perempuan dari berbagai daerah dan profesi. “Kami bekerja sama dengan akademisi, aktivis, dan pemimpin organisasi perempuan. Semua memiliki komitmen yang sama untuk memperjuangkan kesetaraan dan pemberdayaan,” jelasnya.

Dr. Ikke menuturkan bahwa tantangan terbesar perempuan saat ini adalah kesenjangan akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja. “Masih banyak perempuan yang belum mendapatkan ruang untuk berkembang secara optimal. Kongres ini menjadi wadah untuk menyuarakan perubahan itu,” katanya.

Suasana kongres berlangsung penuh antusiasme. “Para peserta datang dengan semangat luar biasa. Mereka berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menyampaikan aspirasi dengan penuh keyakinan bahwa perempuan Indonesia mampu menjadi motor perubahan,” ungkapnya.

Kongres menghasilkan beberapa keputusan strategis, di antaranya pembentukan jaringan nasional perempuan pejuang pendidikan, penguatan peran perempuan dalam kebijakan publik, serta komitmen bersama untuk memperjuangkan kesetaraan gender di berbagai sektor.

“Cita-cita utama kami adalah mewujudkan bangsa yang adil dan beradab, di mana perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional,” tegas Dr. Ikke.

Ia menegaskan bahwa perempuan adalah pilar utama pembangunan bangsa. “Perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi penggerak utama dalam pendidikan, ekonomi, dan sosial. Mereka memiliki kekuatan moral dan intelektual yang luar biasa,” ujarnya.

Dr. Ikke berpesan agar generasi muda perempuan terus belajar dan berani bermimpi besar. “Jangan takut mengambil peran kepemimpinan. Jadilah perempuan yang berani, cerdas, dan berintegritas,” katanya.

Menurutnya, semangat perjuangan perempuan harus dijaga melalui pendidikan dan solidaritas. “Kita harus terus menyesuaikan nilai perjuangan dengan tantangan zaman, termasuk melalui inovasi dan teknologi,” ujarnya.

“Bagi kami, kemerdekaan berarti kebebasan untuk menentukan masa depan, berpendapat, dan berkontribusi tanpa batasan gender. Namun kemerdekaan juga berarti tanggung jawab untuk memperjuangkan keadilan bagi sesama,” jelasnya.

Momen paling berkesan bagi Ketua Kongres adalah ketika seluruh peserta menyanyikan lagu perjuangan bersama. “Itu menjadi simbol persatuan dan tekad kami untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu,” kenangnya.

Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak. “Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat memberikan dukungan moral dan logistik. Ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan adalah perjuangan bangsa,” ujarnya.

Ketua Kongres menekankan pentingnya mewariskan nilai keberanian, kejujuran, solidaritas, dan gotong royong. “Nilai-nilai ini menjadi fondasi moral bagi generasi penerus,” katanya.

Jika kongres serupa diadakan kembali, ia menilai isu yang paling penting dibahas adalah transformasi digital bagi perempuan, perlindungan terhadap pekerja perempuan, serta peningkatan akses pendidikan di daerah 3T.

Dr. Ikke optimistis bahwa masa depan perjuangan perempuan Indonesia akan semakin kuat. “Dengan pendidikan, solidaritas, dan kepemimpinan yang inklusif, perempuan Indonesia akan menjadi kekuatan besar dalam membangun bangsa yang berkeadilan dan berkemajuan,” tutupnya.

Kongres Pejuang Wanita Indonesia di UPI menjadi momentum penting bagi kebangkitan perempuan Indonesia. Dengan dukungan tokoh nasional seperti Atalia Praratya dan kehadiran tujuh perwakilan wilayah, kongres ini menegaskan bahwa semangat perjuangan perempuan Indonesia terus hidup dan berkembang di setiap generasi.

(Rahmien Liomintono/red)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SPP-Bentuk-Pansus-dan-Gelar-Aksi-di-Depan-Gedung-Sate-Petani-Bergerak-Lawan-Stagnasi-dan-Korupsi-Desa

Tragedi-Ngada-Jadi-Cermin-Nurani-Bangsa:-RPABI-Serukan-Gerakan-Nasional-Peduli-Anak-Sekolah-Miskin

Kasatpol-PP-Kota-Bandung-Angkat-Bicara-Soal-Dugaan+Penyalahgunaan-Wewenang-oleh-Oknum-Anggota